NEWS UPDATE :  

BERITA

Generasi Digital, Generasi Berakhlak Karim

Oleh: Drs. H. Nurul Yakin, MA.

Perjalanan hidup saya dimulai dari seorang guru honorer di madrasah swasta dengan honor yang sangat kecil. Namun karena panggilan jiwa, saya tetap memilih mengabdi di dunia pendidikan. Dari sanalah saya belajar bahwa menjadi guru bukan sekadar profesi, tetapi ibadah dan pengabdian. 

Tahun demi tahun saya jalani, hingga akhirnya dipercaya menjadi kepala madrasah di beberapa tempat, sampai kini di MTsN 2 Tangerang.

Dalam perjalanan memimpin, tantangan tentu tidak pernah hilang. Namun saya meyakini, dengan kejujuran, keikhlasan, dan kesungguhan, setiap masalah dapat dihadapi. Prinsip saya sederhana: jangan pernah me-nyalahgunakan amanah, dan jangan berhenti berdoa agar setiap langkah dalam mendidik selalu mendapat keberkahan.

Kini, kita hidup di era generasi digital. Anak-anak kita sangat akrab dengan gawai dan internet. Di satu sisi, teknologi memberi banyak kemudahan: belajar lebih cepat, ak-ses informasi terbuka, kreativitas bisa ber-kembang. Namun di sisi lain, ada tantangan besar: godaan konten negatif, kecanduan media sosial, dan berkurangnya interaksi nyata.

Di sinilah pentingnya akhlak. Generasi digital tidak boleh hanya cerdas, tetapi juga harus berkarakter.

Nabi Muhammad SAW bersabda: "Sesungguhnya aku diutus hanya untuk menyempurnakan akhlak yang mulia."

(HR. Ahmad)

Hadis ini menjadi pengingat bahwa ilmu setinggi apa pun akan sia-sia jika tidak dibarengi akhlak yang baik.

Bahkan Allah SWT menegaskan dalam Al-Qur’an:

“Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu...” (QS. Al-Ahzab: 21).

Artinya, generasi kita harus menjadikan Rasulullah sebagai teladan dalam bersikap dan ber-akhlak, meskipun hidup di zaman serba digital. Digi-talisasi haruslah membuat kita semakin takwa.

Di madrasah, saya bangga melihat para siswa yang terbiasa menyapa guru dengan salam, berjabat tangan, dan menunjukkan rasa hormat.

Ini bukti bahwa teknologi tidak harus mengikis akhlak. Justru dengan bimbingan yang tepat, tek-nologi bisa menjadi sarana memperkuat ilmu sekali-gus menjaga nilai-nilai agama.

Saya selalu berpesan kepada para siswa: gunakan teknologi dengan bijak. Jadikan gawai sebagai alat untuk menambah ilmu, bukan se-kadar hiburan. Jika waktunya salat, tinggalkan ponsel. Jika waktunya belajar, gunakan ponsel untuk mencari referensi yang bermanfaat. Jangan sampai gawai menjadi “setan kecil” yang me-lalaikan.

Lebih jauh, generasi digital harus mampu menyeimbangkan antara dunia maya dan dunia nyata. Belajar boleh melalui internet, tetapi in-teraksi langsung dengan guru, orang tua, dan teman sebaya tetap harus dijaga. Sebab, nilai-nilai empati, kerja sama, dan kepedulian sosial tidak bisa sepenuhnya diajarkan oleh teknologi.

Selain itu, penting pula bagi para pendidik dan orang tua untuk mendampingi anak-anak dalam menggunakan teknologi. Pengawasan yang bijak

bijak, Teladan yang baik, serta pembiasaan akhlak sejak dini akan menjadi benteng agar generasi digital tumbuh tidak hanya cerdas, tetapi juga berkarakter dan berlandaskan nilai-nilai agama.

Nilai utama yang saya pegang selama menjadi pendidik dan pemimpin adalah keikhlasan. Ikhlas mengajar, ikhlas membimbing, dan ikhlas men-doakan agar setiap anak menjadi pribadi yang sukses, pintar, berilmu, dan berakhlakul karimah.

Untuk itu, jika generasi sekarang ingin tetap kuat di era digital, ada dua hal penting: pertama, pelajari teknologi dengan sungguh-sungguh; ke-dua, jangan pernah lepaskan akhlak mulia dalam keseharian. Dengan begitu, kita dapat melahirkan generasi digital yang tidak hanya cerdas, tetapi juga berkarakter dan berakhlak mulia.

Akhirnya, jika semua usaha ini dirangkum dalam satu kata, maka kata itu adalah “ber-sungguh-sungguh.”

Share to :
Kontak
Alamat :

Jl. Aria Jaya Santika Tigaraksa

Email :

mtsn_tigaraksa@yahoo.com

Website :

mtsn2tangerang.sch.id

Media Sosial :